1..2..3..4..5..6..7..8..9..10.. siap atau tidak aku akan mencari Mama! Ma! Ma! Kucari disekeliling rumah, didapur tidak ada, dikamar juga tidak ada, mungkin ada diruang tamu. Ada sosok wanita di pojok ruang tamu, itu pasti Mama!. Siluetnya agak sedikit berbeda, rambutnya lebih panjang Ma! Mama! Mama ketemu! Sekarang Mama yang jaga! Tetapi Mama tidak bergerak, apa yang sedang dia lakukan. Aku berteriak MA! MAMA!! Tampaknya dia mengenaliku, tapi tunggu apa-apaan ini, dia bukan mama-ku dia bukan mama yang aku kenal, siapa wanita ini. Siapa kamu? Wanita itu mengeluarkan suara yang pelan namun mengerikan, tubuhku bergetar Hanya tinggal kita berdua Nak. Apa yang ia bicarakan Siapa kamu!! Siapa wanita ini? aku tidak mengenalinya. Lalu dia menoleh kearahku dan tersenyum sambil mengucapkan Aku Mama-mu.
Hah! Aku tidak dapat bernapas, sudah berapa lamu aku telah menahan napasku, mimpi apa itu? Mimpi buruk itu sudah tiga kali menghantuiku, siapa wanita itu? Apa yang dia lakukan di mimpiku? Apakah aku pernah bertemu atau mengenalinya?. Aku melihat jam dinding dikamarku, ternyata baru pukul 02.00 dini hari. Apa-apaan ini, hanya karena mimpi itu tidurku menjadi susah, karena mimpi itu aku hanya tidur selama tiga jam. Pokoknya aku harus tidur lagi, aku keluar dari kamar, turun melewati tingga kulihat banyak foto-fotoku bersama mama dan papaku. Orangtuaku cukup kaya tetapi aku adalah anak satu-satunya, sudah beberapa kali aku berbicara kalau aku ingin mempunyai seorang adik tetapi orangtuaku berkata “kita akan memfokuskan semuanya untuk kamu Al” kecewa pasti tapi mereka oragtuaku, mereka tahu apa yang terbaik untuk mereka dan aku.
Aku berjalan ke dapur, membuka lemari es dan aku ambil susu dalam kemasan karton, tanpa lama-lama langsung saja aku minur dari kemasannya. Aku baca dari Google kalau susu dapat membantu insomnia, aku kembali lagi kekamar berjalan pelan-pelan agar tidak ketahuan orangtuaku dan mencoba kembali tidur.
Angin berhembus, suara burung berkicau dimana aku? Apakah ini hutan? Mengapa aku berada didalam hutan? Dimana orang lain? Halo! Halo! Apakah ada orang disini? Aku terus berjalan menyusuri hutan ini, diujung mataku terlihat sebuah rumah kecil, siapa yang memiliki rumah ditengah hutan seperti ini?. Aku menghampiri rumah tersebut, ku ketuk knok,knok apakah ada orang didalam? Tidak ada jawaban, aku memberanikan diri untuk membuka pinunya, bunyi pintu yang sudah hampir rapuh semakin membuatku takut. Ada sepatu dibawah! Aku melihat keatas tampak tubuh seseorang wanita Selamat Datang Nak!
“Ahhhhh!!!!” aku berteriak melengking dan dadaku terasa sesak, keringat mengaliri dahiku Aku belum pernah merasakan teror semacam ini, apakah ada orang yang sedang mempermainankan aku? Ini semua terasa absurd. Pintuku berbunyi keras karena bukaan yang dipaksa, ternyata orangtuaku datang dan menghampiriku.
“Ada apa Al?, mengapa kamu berteriak” ayahku bertanya.
Aku tidak dapat mengeluarkan suaraku, semua ini terlalu berat, dadaku sesak, kepalaku pusing, pikiranku kosong.
“Al!! Bicara pada kami! Apa yang terjadi?”sekarang Mama-ku duduk disampigku, melihat mataku mencoba mencari jawaban tetapi kosong, mataku kosong.
“Hanya mimpi buruk” sambil mencoba tersenyum. Mereka tidak boleh tahu tentang mimpi buruk ini, mereka sudah punya banyak masalah untuk dipikirkan dan aku tidak akan menambahkannya lagi.
Mama memelukku dan mulai kurasakan apa yang aku butuhkan saat ini yaitu pelukkan, pelukkan Mama dan Papa yang akan membuat semua masalah terbang.
“Ya ampun Al, kamu baru saja membasahi kami dengan keringat kamu. Jelas kamu harus mandi, lagipula searang sudah jam enam pagi”
Hah, aku telat, gawat aku telat. Langsung aku pergi ke kamar mandi “Kenapa tidak bilang kalau aku telat sih?”
“jangan pernah merusak momen keluarga”kata Mama. Mama dan Papaku menertawai reaksiku yang panik karena takut telat ke sekolah. Mereka itu benar-benar..
“Eittss.. jangan lupa bekelmu dan Papa sudah menunggu dimobil”
“Oke-oke. Bye Ma!”
“Hati-hati Al! Pa!
Sekolah tampak biasa saja, masih tetap membosankan, bagiku itu normal untuk semua murid sepertiku untuk bosan dengan sekolahnya sendiri. Aku termasuk anak yang pintar dan orang tuaku adalah salah satu donatur bagi sekolah ini, dan semua guru dan kepala sekolah menghormatiku (walaupun bagiku itu karena orangtuaku). Kehidupanku sangat baik, pendidikanku baik, orangtuaku baik, teman-temanku baik, semuanya terasa “benar” dalam kehidupanku.
Sekolah sudah selesai dan sekarang aku berjalan pulang, dijalan HP ku terasa berbunyi dan pas kuihat pada layarnya, ternyata mamaku menelponku.
“Halo Ma, ada apa?”
“Al, Mama dan Papa ada pertemuan penting, kamu tidak apa-apa dirumah sendiri?”
Ah kebetulan sekali, hari ini aku ingin bermalas-malasan dirumah.
“Iya Ma, tidak apa-apa”
“Ok Al, Mama pergi dulu ya, bye!”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sambil berjalan aku sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan dirumah.Nonton film, makan popcorn, baca komik, masker muka, semuanya akan aku lakukan. Dan tiba-tiba ada seseorang yang mendekatiku, seorang wanita.
“Al”
Siapa wanita ini, tetapi aku mengenali suaranya. Kulihat lagi ternyata dia orang yang ada dalam mimpiku. Kaget dan terpanah aku rasakan, tubuhku tidak dapat bergerak. Apa ini nyata?.
“Apa anda mengenalku?” aku sampai tidak mempercayai suaraku sendiri karena saking gemetarnya.
“Tentu saja, setelah 10 tahun namun aku masih mengenalmu”
10 tahun? Umurku saja baru 15 tahun September ini, apakah dia kerabat atau orangtua dari teman masa kecilku?.
“Maaf tapi saya tidak mengenal anda, mungkin anda salah orang, maaf sekali lagi” aku mulai berjalan melewatinya sambil menundukkan kepalaku, semua situasi ini membuatku pusing.
“Kau memang Alma yang aku cari, anak yang orang tuamu adopsi ketika kamu berumur 3 tahun”
Terperanga, dan bingung tambah menimpaku. aku bukan anak adopsi!!. Aku ingin menamparnya pada saat itu juga karena menuduhku sebagai anak adopsi. Aku tatap matanya dengan rasa marah.
“Itu benar, kamu adalah anak adopsi. Kalau tidak percaya …”
“Akte kelahiranku menunjukkan aku anak dari orangtuaku, dan siapa anda berani berbicara kalau saya adalah anak adopsi?!”. Marah dan kesal terlihat jelas dirau mukaku, dan langsung raut muka wanita ini berubah menjadi lebih “senang” lebih tertarik. Dia orang aneh menurutku.
“Cari file dirumahmu dan kamu akan menemukan file yang menyatakan kamu adalah anak adopsi. Orangtuamu tidak mungkin membuat akte yang mnulis orangtuamu bukan orangtua kandungmu. Mereka pintar, namun mereka harus selalu menyimpang surat adopsi itu, kalau tidak percaya kamu bisa mencarinya.”
“Saya tidak ada waktu menanggapi omong kosong seperti ini”. Marah dan langsung saja saya pergi.
“Kalau kamu sudah tahu hal yang sebenarnya, datang ke taman melati jam 7 malam ini”.
Orang gila ini semakin ngawur atau memang otaknya sudah tidak bekerja lagi. tapi semakin aku memikirkannya semakin aku penasaran siapa dia? mengapa dia menganaliku? Walaupun memang benar dia salah orang, tapi tidak mungkin dia terus melihatku dan terlihat yakin bahwa aku adalah orang yang ia cari.
“ARRGGHH!!” aku teriak karena kesal dan frustasi, orang itu terus menghantui pikiranku dan membuat pikiranku tidak fokus, serta membut hatiku menjadi penasaran. Apa mungkin aku harus mencari file itu? Tapi aku tidak mempercayai wanita gila itu!.
Hatiku galau, tidak tahan lagi aku langsung kekamar orangtuaku. Dimana mereka menyembunyikan file itu, tapi yang terpenting apakah file itu ada? Aku adalah anak adopsi? Muak aku memikirkan hal yang belum pasti. Diatas lemari tidak ada, dibawah tempat tidur apalagi, dilaci juga tidak ada, di brangkas mungkin ada, tapi aku tidak tahu kodenya. Apa kodenya, aku coba tahun pernikahan mereka, ulang tahun mereka, ulang tahun aku, nomer telpon rumah, semuanya salah. Lalu aku teringat kata wanita tadi “setelah 10 tahun namun aku masih mengenalmu” 10 tahun, aku hampir tidak percaya pada diriku sendiri yang sampai memikirkan perkataan wanita gila tadi. Tapi apa salahnya mencoba, 2015-10 = 2010, mungkin kodenya 2010. Sekarang aku malah takut kalau kodenya berhasil membuka brangkas ini. Dua..nol..satu..nol. dan boom brangkas terbuka,
“Tidak mungkin, tidak mungkin!, TIDAK MUNGKIN!”
Aku tidak percaya, tidak bisa mempercayai semua ini. Brangkas orangtuaku terbuka karena perkataan seorang wanita gila di jalan. Ini hanya kebetulan. Aku mencoba mempertahankan diriku sendiri, horror yang kurasakan ini. Ini hanya kebetulan dan belum tentu ada file yang wanita tadi bicarakan. Aku tidak tahu tahus memikirkan apalagi, langsung saja aku keluarkan dan kulihat satu-per-satu file yang ada.
Lalu ada satu file yang tertulis “SURAT PENYERAHAN ANAK” yang beratasnamakan ALMA DINA.
Namaku namaku Alma Dina Ronan, selama ini aku berpikir kalau aku adalah anak dari Brenda Ronan dan Robbie Ronan. Sekarang apa yang aku lakukan malam hari jam 19.00 ditaman Melati menunggu seorang wanita yang tadi aku anggap sebagai orang gila dan sekarang aku setengah berpikir dialah ibuku. Hujan membasahi rambut, pakaian serta tubuhku. Tapi apakah kesunyian yang kurasakan ini, disaat suara hujan sangat besar aku merasa sangat kosong. Mengecil, mengecil, mengecil, aku terus merasakan diriku mengecil, mengecil sampai tidak ada yang dapat melihatku. Aku, setelah sekian tahun berpikir aku adalah Alma, sekarang aku berpikir aku adalah siapa? Siapa aku?. Disaat semua kerajaan kehidupanku yang telah aku jaga dan kubangun dengan sepenuh hati hancur dalam satu kata, “adopsi”, kata pendek yang tajamnya seperti belati menusuk dada, menembuh jantung, membelah tubuh, membakar hidup.Hidupku, hidupku hancur, semua hancur. Sekarang siapa yang dapat kupercayai? Siapa yang dapat membangun kembali kerajaanku?.
”Alma? Apakah itu kau? Akhirnya kau datang juga”
Suara itu, suara yang tadi siang kurasakan seperti suara mencekam yang membuat tubuhku merinding ketakutan, sekarang menjadi suara pengobat hatiku.
“Ibu”.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sudah 5 jam kutinggal anakku Alma dirumah sendirian. Setiap saat aku terus meyakinkan diriku bahwa Al sudah mulai dewasa, kelak akan hidup dan meninggalkanku dn suamiku sendiri. Bayi Al ku. Walaupun aku menemukan Al saat dia berusia 5 tahun, tapi aku terus memanggilnya “bayi Al”. Aku mencoba menelpon telpon rumah tapi tidak diangkat, aku menoba menelpon handphonenya tapi tidak aktif.Kemana anak itu?.
“Pa, apakah kamu tahu dimana Al? Handphone tidak aktif”
Suamiku Robbie Ronan, adalah seorang laku-laki bisnis yang tangguh. Otaknya dalam bisnis sangat cekatan dan cintanya untuk keluarga sangat besar, aku tidak dapat mengharapkan lebih. Waktu kami akan mengadopsi Al dia sangat bahagia, kami sangat bahagia. Dia telah menjadi papa dan suami yang baik untuk aku dan Al.
”Benarkah? Mungkin dia sedang tertidur. Aku akan bilang ke Edi, untuk mengecek keadaan Al”
“Baiklah”
Edi adalah bodyguard kami, yang menjaga Alma dengan selalu mengecek dimana dia berada melalui handphone dan trcker yang berada didalam jamnya. Memang untuk sebagian orang hal itu sangat berlebihan, overprotective namu Alma adalah anak amisatu-satunya.dan kami masih menyembunyikan rahasia terbesar kami kepadanya, rahasia tentang dirinya.
Edi datang dengan wajah yang khawatir.
“Alma tidak ada dirumah, dan setelah aku lihat melaluui trackernya dia berada di daerah Kuningan”
“Kuningan? Apa yang dia lakukan disana, dia tidak memberitahu kami mengapa dia berada disana”
“Dan saya baru mendapatkan berita kalau tante Alma, Niken sudah keluar dari penjara kemarin”
Semua kakiku merasa sakit, lemas, tidak mampu menopang rasa panik ini. Niken, seorang wanita psikopat yang telah membunuh ibu dan ayah Alma 10 tahun lalu sudah keluar dari penjara. Semoga saja Alma tidak bersama wanita gila itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Mau kemana kita?”
Sudah 30menit kita berada didalam taksi, dan dari tanda jalan aku tahu kalau kita berada di wilayah Kuningan. Tadi dia mengajakku pergi kerumahnya dan aku hanyak dapat mengangguk sambil meratapi nasibku ini, dikecewakan oleh kedua orang yang laing aku sayangi didunia.
“Sebentar lagi kita sampai sayang, apakah kamu tidak apa-apa?”
Sayang. Mendengar orang lain mengatakan hal itu kepadaku membuatku bergetar tapi mungkin dia bukan ‘orang lain’ mungkin dia adalah ibuku.
“Aku baik-baik saja”
Ibu. Kata yang menggantung dibelakang kepalaku. Aku tidak pernah memiliki ibu, aku punya Mama, tapi aku rasa dia bukan ibuku. Wanita yang duduk disampingku adalah ibu, ibuku. tapi mengapa baru sekarang dia menjemputku? Mengapa tidak dari 10 tahun yang lalu, sebelum aku mengenal Mama dan Papa.
“Siapa namamu? Maksudku, iya kamu ibuku namun seharusnya aku mengetahui nama ibuku sendiri kan”
Aku hampir tidak mempercayai suaraku sendiri, sangat gemetar ketakutan, namun apa yang perlu ditakutkan, dia ibumu, ibu yang telah melahirkanmu bukan?.
“Maya, nama ibu Niken Rona”
Maya Rona, sepertinya aku pernah membaca nama itu, tapi dimana? Apa mungkin di surat kabar atau di internet. Internet, ngomong-ngomong soal internet aku masih menyimpang handphoneku didalam jaketku, mungkin aku bisa cek nama wanita ini, maksudku ibuku, di internet.
Taksi berhenti didepan rumah tua dan aku tiba-tiba merasa takut. Aku sebenarnya tidak takut sama hantu atau apapun, namun auran rumah dan aura dari wanita ini membuatku takut.
“Kita sampai! Sekarang aku akan mengajakmu berkeliling”
Dia sangat gembira namun menakutkan bagiku.
“hmm.. oke. Namun sebelumnya apa boleh aku membersihkan badan terlebih dahulu? Udaranya sangat dingin, membuatku menggigil”.
Wow. Aku sangat ketakutan berbicara kepadanya.
“Tentu saja, kamar mandi berada disebelah kanan”
Aku langsung berjalan menuju kamar mandi dan tak sengaja aku menoleh kearahnya dan melihatnya mengunci pintu dengan sangat pelan, lalu aku langsung berbalik dan terus berjalan menuju kamar mandi.
Di kamar mandi aku mengecek handphone, dan ternyata handphoneku mati, langsung kunyalakan dan melihat ada 20 pesan dan 11 panggilan tak terjawab, dan semuanya dari orangtuaku. Apa mereka sudh mengetahui bahwa aku telah mengetahui rahasia yang selama ini mereka sembunyikan?. Aku biarkan saja lalu aku mulai googling nama Maya Rona dan keluar banyak sekali berita tentangnya. Dan setelah kubaca ternyata Maya Rona telah dibunuh oleh Niken Rona adalah seorang pembunuh yang telah membunuh Maya dan suamiya tersebut. Dan anak dari Maya yang ia bunuh berinisial AD, Alma Dina 4 tahun.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Dimana Alma?!?! DIMANA ANAKKU?” aku menangis, menangisi kesalahku telah meninggalkan anakku sendirian. Walaupun belum pasti kalau anakku berada ditangan wanita gila itu, tapi seorang ibu memiliki intituisi, firasat buruk.
“Tenang Ma, Alma akan baik-baik saja. Kita akan langsung mencarinya. Edi siapkan mobil, kita langsung mencari Alma, dan telpon polisi suruh mereka tidak menyalakan sirine”.
Kuningan adalah tempat dimana Niken membunuh adik dan suami adiknya tersebut. Alasannya sepele, karena Niken merasa kalau suami adiknya tersebut adalah miliknya, mungkin mereka telah berselingkuh, namun semenjak ada Alma, hati suami adiknya itu menjadi luluh. Selama diperjalanan kami sangat diam, diam karena ketakutan akan keadaan Alma. Edi terus melihat GPS yang berada di handphone Alma, dan berhenti di suatu rumah kosoong, tidak terjaga. Dan tiba-tiba aku ingat, rumah ini adalah rumah ibu kandung Alma, rumah dimana dia dibunuh.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Setelah dari kamar mandi aku terdiam, menundukkan kepala, seperti orang yang baru saja melihat hantu. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus pergi dari sini, pergi menjauh dari pembunuh ini. Orang yang mengaku sebagai ibu kandungku, dan ternyata adalah seorang pembunuh yang telah membunuh ibu dan ayah kandungku. Aku ingin mencekiknya, tetapi takut dia akan berbuat jahat kepadku. Dia telah berbuat jahat sehingga sekarang kamu berada didalam sarangnya. Pikiranku mengingatkan aku. Sekarang aku pergi ke dapur dan mencari pisau, berjaga-jaga bila terjadi hal yang tidak diinginkan.Hal yang tidak kamu inginkan sudah terjadi, bodoh. Terimakasih kembali kepada otakku yang terus memberitahukan aku bahwa aku masih hidup dengan kata-kata kasarnya.
Aku menemukn daput dan melihat pisau kecil, dan langsung memasukkannya kedalam saku celana, dan langsung berlari. Lalu akuu menabra Niken.
”Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu berlarian?”.
“Aku tersesat dan takut karena aku tidak melihatmu”.
“Kamu biisa memanggilku dan aku langsung datang”.
“Hmm.. maafkan aku”.
“Oke, sekarang mari kita pergi tidur dan akan memulai hidup baru besok”
Hidup baru? apanya yang baru? hidup dengan seorang pembunuh dan hidup dipenuhi ketakutan kalau dia dapat membunuhmu kapan saja? Tidak terimakasih. Aku harus bertindak. Aku melihat perabotan disekelilngku, melihat apakan ada benda yang mudah pecah, tajam, atau dapat dibuat untuk dilempar. Ada guci, dan batu bata disampingku, dan pisau di sakuku. Saatnya beraksi.
“Oke, semoga besok menjadi hari yang baik” aku mencoba tersenyum lebar, senyum yang mekatakan aku tahu rahasiamu. “Selamat malam NIKEN”.
Hah! Seperti yang kuduga wajahnya berubah seperti mengenali nama itu.
“Wow! Hanya kutinggal 15 menit dan kamu telah mengetahui rahasiaku, tapi sebenarnya aku sudah menyadari bahwa kamu telah mengetahui semuanya”
Lalu tiba-tiba handphoneku berdering. Sialan, disaat krusial seperti ini.
“Berikan Handphonemu! Berikan sekarang juga!”
Aku harus kuat, harus berani seperti Papa. Ah, orangtuaku. Mereka psti sudah dalam perjalanan menuju kesini. Aku harus mengulur waktu.
“Aku tidak akan mengangkatnya, tenang saja. Dan sepertinya tidak ada yang tahu aku disini”
“Apakah aku terlihat seperti orang yang bodoh? Tentu kamu telah memberitahu orangtuamu”
“Apakah kamu tidak ingat kalau aku sedang mebenci orangtuaku saat ini”
Aku tidak pernah membenci mereka, aku harus terus membuatnya berbicara. Ayo Al, kamu pasti bisa.
“Dimana ibu dan ayah kandung ku, Niken?”
“Dibawah tanah, mereka sudah dikubur. Tentu saja aku yang membunuhnya”. Wajahnya memperlihatkan rasa puas akan perkataannya. Dia adalah seorang psikopat.
“Tapi mengapa? Mereka tidak menyakitimu. Maya adalah adikmu”
“Maya adalah adikku, namun Erik adalah pacarku. Kamu telah berhubungan denganku selama ibu kandungmu hamil kamu. Semuanya tampak bahagia, Maya tidak mengetahuinya, Erik dan aku bahagia, semuanya baik-baik saja sampai kehadiranmu. Kamu membuat Erik kembali kepada Maya, kamu menghancurkan hidupku.”
“Tapi mengapa aku? Aku banyak seorang bayi pada saat itu”
“Erik menyayangimu, di memutuskan semua hubungannya denganku. Aku hancur, lalu aku beritahu Maya tentang hubunganku dengan Erik. Maya dan Erik bertengkar hebat, tetapi Erik tidak ingin bercerai dengan Maya. Erik membenciku, Erik mengancamku. Aku tidak punya pilihan lain, namun sayangnya waktu itu kamu sedang berada di rumah sakit. Erik mengetahui niat jahatku, dan apa boleh buat, aku membunuh mereka berdua”
Dia, dia, wanita ini sangat kejam. Tidak habis pikir bagaimana dengan mudahnya dia membicarakan knologi kekejamannya kepadaku, anak yang waktu itu ingin ia bunuh. Lalu tiba-tiba berbunyi ‘BOOM’. Pintu terbuka lebar dan ada 3 orang berbaju polisi lengkap menodongkan pistol kearah Niken. Lalu dengan sigap Niken merangkullku dan mencekam leherku, menjadikan tubuhku sebagai perisai tubuhnya.
“aku akan mencakar leher anak ini, turunkan pistol kalin !!”
Suaranya sangat marah dan aku coba meraih pisau yang ada di pinggangku. Untungnya dia tidak menyadarinya dan kuberi isyarat kepda polisi yang melihat pisauku. Lalu mereka mengangguk dan langsung kutusuk tangan Niken, dan dia melepaskan pengangannya lalu aku langsung lari dan polisi langsung menangkap Niken.
Diluar Mama dan Papaku telah menunggu, mereka terlihat cemas.
“Mama? Papa?”
“Alma? Alma anakku apa kamu baik-baik saja? Kami sangat cemas” ibuku terlihat sangat khawatir.
“Alma, apa yang terjadi? Mengapa kamu bisa berada disini?” ayahku bertanya. Nada bicanya sangat khawatir dan terdengar marah.
“Aku tahu semuanya Ma, Pa. Aku tahu aku adalah anak adopsi, semuanya aku tahu dari Niken, dia menghampiriku waktu aku berjalan pulang setelah sekolah. dia memberitahuku, bilang aku dapat melihatnya sendiri, dan daia akan menungguku di taman Melati jam 7 malam. Maafkan aku Ma, Pa. Semua ini salah ku”. Air mataku mulai mengalir, aku tahuu mengapa mereka tidak memberitahuku, karena mereka tahu apa yang terbaik dan selalu memilih jalam yang paling aman untukku.
“Ini semua salah kami Al. Papa sangat menyesal, kami ingin kamu selalu berpikir kalau kami adalah orangtuamu, orang yang selalu ada dan menyayangimu.”
“Mama juga minta maaf, mulai sekarang bila ada yang ingi ditanyakan langsung tanyakan kepada kami Al. Kami sangat khawatir”.
“Aku tahu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar